MAGELANG – Banyak di antara pembaca yang sudah menonton film Ada Apa dengan Cinta II. Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastro) dalam dialognya menyebut nama Punthuk Setumbu. Ya, Punthuk Setumbu adalah bukit yang berjarak sekitar dua kilometer di sisi barat Candi Borobudur.
Punthuk Setumbu pun kemudian sangat dikenal, setelah Rangga dan Cinta menyebut nama tempat yang tak jauh dari Gereja Ayam (sebenarnya sih bangunan itu berbentuk burung merpati) atau Bukit Rhema.
Dari Punthuk Setumbu para pengunjung bisa melihat dari kejauhan panorama hijau yang mengelilingi Candi Borobudur. Selain itu, bila cuaca mendukung bisa menyaksikan keindahan Gunung Merbabu dan Merapi di sebelah timur.
Sedangkan, di sebelah selatan dan barat tampak menjulang tinggi perbukitan Menoreh yang berbatasan langsung dengan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tidak jauh dari Punthuk Setumbu, wisatawan juga bisa melihat bagian belakang objek wisata Bukit Rhema Gereja Ayam. Selain itu, dari atas bukit yang berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut tersebut , para pengunjung bisa menyaksikan sunrise ( matahari terbit) di antara celah Gunung Merapi dan Merbabu dan di bagian depannya Candi Borobudur.
Tak heran, bila sejak pukul 04.00 WIB, banyak wisatawan yang sudah berdatangan untuk “berburu” sunrise.
Untuk menuju objek wisata tersebut sangat mudah dijangkau, yakni sesampainya di Dusun Kurahan, Desa Karangrejo, pengunjung harus mendaki puluhan anak tangga yang tersusun rapi dan terbuat dari cor semen.
Rasa lelah setelah berjalan kaki dan menaiki puluhan anak tangga tersebut akan segera sirna setelah sampai di puncak tersebut, dengan bisa menyaksikan keindahan alam bak permadani hijau.
Dalam Bahasa Jawa, nama “punthuk” berarti gundukan atau bukit. Sedangkan “setumbu” mempunyai arti tempat nasi atau lainnya dalam ukuran besar dan terbuat dari anyaman bambu.

Tempat Gembala Ternak
Namun, banyak yang tidak mengetahui bila bukit yang saat ini menjadi daya tarik wisatawan tersebut, dulunya merupakan tempat angon ( mengembala) ternak ternak seperti kambing, sapi dan kerbau milik warga setempat.
“Dulu, Punthuk Setumbu ini dijadikan oleh masyarakat untuk mengembala ternaknya. Karena, di tempat tersebut banyak rumput dan agak luas,” kata Kepala Dusun Kurahan, Nuryazid seperti dikutip suarabaru.id grup siberindo.co.
Nuryazid menambahkan, para sesepuh dusun setempat juga pernah menyebut bila Punthuk Setumbu tersebut merupakan sebuah harta karun. Ternyata, harta karun tersebut muncul sekarang dan menjadi daya tarik wisata yang mendunia.
Menurutnya, harta karun Punthuk Setumbu tersebut mulai terkuak sejak tahun 2006 silam, saat sejumlah fotografer amatir dari Borobudur yakni Suparno
i Magelang naik ke puncak bukit tersebut untuk memotret sunrise (matahati terbit) dengan latar depannya pesona Candi Borobudur. Hasil bidikan kamera fotografer tersebut kemudian diikuti dalam lomba foto yang berhasil mendapatkan juara.
“Sejak itu, ulai saat itu banyak fotografer yang berlomba-lomba datang ke sana untuk mengabadikan keindahan fenomena alam Punthuk Setumbu, dan banyak pengunjung datang ke sana hingga saat ini,” ujarnya.
Untuk masuk ke objek wisata tersebut, para pengunjung harus lebih dulu membayar tiket tanda masuk yang sangat terjangkau, hanya Rp 20.000 per orang untuk wisatawan nusantara dan Rp 50.000 untuk wisatawan manca.
Sedangkan untuk pengunjung yang membawa kendaraan pribadi akan dikenakan biaya parkir untuk kendaraan roda dua Rp 30.000 dan Rp10.000 untuk mobil.
Adapun fasilitas yang bisa digunakan wisatawan beberapa spot foto yang instagramable seperti gardu pandang, ayunan langit dan beberapa spot foto lainnya.Dan, jam operasional objek wisata tersebut dibuka mulai pukul 04.00 dini hari hingga 17.00 WIB.
Ayo, datanglah ke Punthuk Setumbu untuk menyaksikan jejak Rangga dan Cinta mengulang pertemuan mereka kembali, di sini.
Widiyas Cahyono-wied










